RIO DE JANEIRO|Atisinews.com — Ribuan mahasiswa turun ke jalan di pusat Kota Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (7/10/2026), dalam aksi yang menolak kemungkinan kembalinya keluarga Bolsonaro ke tampuk kekuasaan. Demonstrasi berlangsung di tengah persiapan pemilihan presiden putaran kedua yang akan mempertemukan Flávio Bolsonaro dengan Presiden petahana Luiz Inácio Lula da Silva.
Massa bergerak melewati kawasan pusat kota dan membawa berbagai spanduk yang menyerukan perlindungan demokrasi, kedaulatan Brasil serta hak-hak masyarakat. Sebagian peserta mengenakan pakaian berwarna merah, sementara peserta lainnya menggunakan warna kuning dan hijau yang selama ini juga identik dengan pendukung Bolsonaro.
Aksi tersebut digelar setelah Flávio Bolsonaro meraih suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden. Karena tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara, pemilihan harus dilanjutkan ke putaran kedua pada 25 Oktober 2026.
Para mahasiswa menyatakan aksi mereka bukan semata-mata untuk mendukung seorang kandidat, tetapi juga menyuarakan kekhawatiran mengenai arah demokrasi dan masa depan Brasil. Salah seorang peserta, Talita Amaral, mahasiswa berusia 19 tahun, mengatakan bahwa mereka turun ke jalan karena merasa perlu memperjuangkan Brasil dan demokrasi.
Demonstrasi juga membawa kembali perdebatan mengenai warisan politik Jair Bolsonaro yang memimpin Brasil pada 2019–2022. Kelompok demonstran mengangkat isu demokrasi, pendidikan, hak minoritas serta berbagai kebijakan dan kontroversi yang melekat pada pemerintahan Bolsonaro.
Jair Bolsonaro sendiri saat ini menjalani hukuman setelah dinyatakan bersalah dalam perkara terkait upaya membatalkan hasil pemilu 2022. Putranya, Flávio Bolsonaro, kini menjadi kandidat yang maju dalam pemilihan presiden dan menghadapi Lula pada putaran kedua.
Gelombang aksi mahasiswa di Rio de Janeiro menunjukkan bahwa persaingan menuju putaran kedua Pilpres Brasil tidak hanya berlangsung di arena politik dan kotak suara, tetapi juga memicu mobilisasi masyarakat di ruang publik. Hasil pemungutan suara pada 25 Oktober mendatang akan menentukan arah kepemimpinan Brasil berikutnya.***












