JAKARTA|Atisinews.com – Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) menjadi salah satu masalah kesehatan yang perlu dipahami masyarakat. Keluhan berupa sensasi terbakar di dada, rasa asam di mulut, mual, hingga makanan atau cairan lambung yang naik ke kerongkongan dapat mengganggu aktivitas dan istirahat.
Gejala yang terasa berat kerap membuat penderitanya khawatir, terutama ketika muncul nyeri dada, sesak, atau sensasi seperti tercekik. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua keluhan di dada disebabkan oleh GERD. Gangguan jantung juga dapat menimbulkan gejala serupa sehingga pemeriksaan medis sangat penting.
GERD terjadi ketika isi lambung berulang kali naik ke kerongkongan akibat mekanisme penghalang antara lambung dan kerongkongan tidak bekerja optimal. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan peradangan dan komplikasi tertentu. GERD bukan sekadar asam lambung naik sesekali, melainkan kondisi yang perlu mendapat perhatian apabila gejalanya berulang atau menetap.
Dokter Internis Berperan Menentukan Diagnosis
Dalam menghadapi keluhan GERD, dokter spesialis penyakit dalam atau internis berperan mengevaluasi gejala, riwayat kesehatan, obat-obatan yang dikonsumsi, serta kemungkinan penyakit lain yang menyerupai refluks asam lambung.
Pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah keluhan benar-benar disebabkan GERD atau berkaitan dengan gangguan pencernaan maupun masalah kesehatan lainnya. Pada pasien tertentu, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan lanjutan, termasuk endoskopi, terutama apabila ditemukan tanda bahaya seperti kesulitan menelan, muntah berkepanjangan, perdarahan saluran cerna, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Penanganan GERD tidak selalu sama pada setiap pasien. Dokter dapat menyarankan perubahan pola hidup dan memberikan obat penekan produksi asam lambung sesuai kebutuhan. Penggunaan obat sebaiknya mengikuti petunjuk tenaga medis, khususnya apabila keluhan sering kambuh atau memerlukan pengobatan jangka panjang.
Kiat Mencegah GERD agar Tidak Sering Kambuh
Pencegahan dapat dimulai dengan memperbaiki kebiasaan sehari-hari. Masyarakat disarankan makan dalam porsi yang sesuai, menghindari makan berlebihan, serta tidak langsung berbaring setelah makan. Berikan jeda sekitar dua hingga tiga jam sebelum tidur.
Penderita juga perlu mengenali makanan dan minuman yang memicu keluhannya. Pada sebagian orang, makanan berlemak, pedas, kopi, cokelat, atau minuman tertentu dapat memperburuk gejala. Namun, pemicunya bisa berbeda pada setiap individu sehingga tidak semua makanan tersebut harus dihindari oleh semua orang.
Menjaga berat badan tetap sehat, berhenti merokok, dan meninggikan bagian kepala tempat tidur apabila keluhan sering muncul pada malam hari juga dapat membantu mengurangi refluks. Kebiasaan makan teratur serta pengelolaan stres dapat mendukung pola hidup yang lebih sehat, meskipun tidak menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis.
Apa yang Harus Dilakukan Saat GERD Kambuh?
Ketika sensasi panas di dada atau rasa asam naik ke tenggorokan muncul, hentikan aktivitas sejenak dan duduk dengan posisi tegak. Longgarkan pakaian yang terasa menekan perut dan hindari membungkuk atau berbaring setelah makan.
Apabila sebelumnya dokter telah memberikan obat untuk mengatasi GERD, gunakan sesuai petunjuk yang diberikan. Obat antasida atau alginat tertentu dapat membantu meredakan gejala pada sebagian orang, tetapi pemilihannya perlu memperhatikan kondisi kesehatan, obat lain yang dikonsumsi, serta petunjuk apoteker atau dokter.
Jangan menambah dosis obat secara sembarangan, mencampur berbagai obat tanpa arahan, atau mengandalkan pengobatan rumahan sebagai pengganti pemeriksaan medis. Jika keluhan terus berulang, semakin berat, atau tidak membaik dengan penanganan yang biasa dilakukan, segera konsultasikan kepada dokter.
Waspadai Kondisi Darurat, Jangan Menganggap Semua Nyeri Dada sebagai GERD
Masyarakat perlu memberikan perhatian khusus apabila muncul nyeri atau tekanan dada yang baru, berat, menetap, atau menjalar ke lengan, punggung, leher, maupun rahang. Apalagi jika disertai sesak napas, keringat dingin, pusing, atau hampir pingsan.
Segera hubungi layanan darurat medis atau pergi ke instalasi gawat darurat (IGD). Jangan menunggu obat asam lambung bekerja untuk memastikan penyebab nyeri dada. Jangan pula mengemudikan kendaraan sendiri apabila mengalami gejala yang mengarah pada keadaan darurat.
Pertolongan segera juga diperlukan apabila penderita muntah darah, mengalami muntah seperti bubuk kopi, buang air besar berwarna hitam seperti aspal, atau tidak mampu menelan makanan maupun cairan. Gejala tersebut bukan keluhan yang sebaiknya ditangani sendiri di rumah.
Saat menunggu pertolongan, bantu penderita beristirahat dalam posisi yang nyaman dan pantau kesadarannya serta pernapasannya. Jangan memaksa memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut jika penderita sulit menelan atau kesadarannya menurun. Ikuti instruksi petugas layanan darurat.
Pada akhirnya, GERD dapat dikelola melalui diagnosis yang tepat, pengobatan sesuai kebutuhan, serta perubahan pola hidup. Masyarakat tidak perlu panik menghadapi setiap keluhan asam lambung, tetapi juga tidak boleh mengabaikan tanda bahaya. Mengenali gejala, mengetahui batas penanganan mandiri, dan segera mencari pertolongan ketika diperlukan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan.***













