JAKARTA|Atisinews.com – Minum teh telah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi banyak masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang telah memasuki usia lanjut. Minuman ini kerap dinikmati saat sarapan, setelah makan, maupun pada sore hari. Namun, di balik kebiasaan tersebut, lansia perlu memperhatikan jumlah teh yang dikonsumsi, kandungan kafein, serta kondisi kesehatan masing-masing.
Teh tidak selalu berbahaya bagi orang lanjut usia. Akan tetapi, konsumsi yang berlebihan atau pada waktu yang kurang tepat dapat menimbulkan masalah, terutama bagi lansia yang memiliki gangguan tidur, kekurangan zat besi, atau sedang menjalani pengobatan tertentu.
Pertama, dapat mengganggu kualitas tidur. Teh, khususnya teh hitam dan teh hijau, mengandung kafein yang dapat membuat seseorang tetap terjaga. Pada lansia yang mengalami kesulitan tidur, minum teh menjelang malam dapat memperburuk keluhan tersebut. Karena itu, sebaiknya hindari minuman berkafein pada sore menjelang malam apabila sensitif terhadap kafein. National Institute on Aging” menyarankan untuk menghindari kafein pada penghujung hari demi membantu menjaga kualitas tidur.
Kedua, dapat menghambat penyerapan zat besi. Senyawa dalam teh dapat mengurangi penyerapan zat besi, terutama yang berasal dari pangan nabati. Kondisi ini perlu diperhatikan oleh lansia yang mengalami anemia atau memiliki kadar zat besi rendah. Sebaiknya, teh tidak diminum bersamaan dengan makanan kaya zat besi maupun suplemen zat besi. Berikan jeda sekitar satu hingga dua jam, sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Ketiga, perhatikan tambahan gula. Kebiasaan mengonsumsi teh manis dengan banyak gula dapat menambah asupan gula harian. Bagi lansia yang memiliki diabetes atau perlu mengendalikan berat badan, teh tawar atau teh dengan sedikit gula dapat menjadi pilihan yang lebih baik. Meski demikian, kebutuhan setiap orang berbeda sehingga pola makan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatannya.
Keempat, jangan sembarangan mengonsumsi teh bersama obat. Lansia umumnya perlu lebih cermat dalam mengatur makanan, minuman, dan obat-obatan yang dikonsumsi secara rutin. Teh dapat memengaruhi penyerapan zat besi dari suplemen, sementara interaksi dengan obat lain bergantung pada jenis obat dan kondisi pasien. Karena itu, tanyakan kepada dokter atau apoteker mengenai waktu minum teh yang tepat apabila sedang menjalani pengobatan.
Untuk menjaga kesehatan pada usia senja, lansia tidak harus berhenti minum teh apabila tidak memiliki larangan medis. Pilih teh dengan kadar gula rendah, batasi konsumsi sesuai toleransi tubuh, hindari teh berkafein menjelang tidur, dan utamakan air putih untuk memenuhi kebutuhan cairan. Apabila muncul keluhan seperti jantung berdebar, sulit tidur, atau gangguan lambung setelah minum teh, kurangi konsumsinya dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan.













