Home / TECHNOLOGY

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:14 WIB

6 Tren Keamanan Siber 2026 yang Perlu Diantisipasi Perusahaan

JAKARTA, 1 Oktober 2026 — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat lanskap keamanan siber pada 2026 berubah semakin cepat. Perusahaan tidak hanya menghadapi serangan ransomware dan pencurian data, tetapi juga risiko yang muncul dari penggunaan AI, identitas digital, rantai pasok teknologi, hingga komputasi kuantum. Sejumlah laporan industri menempatkan perubahan tersebut sebagai perhatian utama organisasi sepanjang 2026.

Pertama, keamanan AI dan AI agent menjadi perhatian baru. Gartner menyebut penggunaan AI agent menciptakan permukaan serangan baru karena sistem tersebut dapat menjalankan tugas secara otomatis. Karena itu, perusahaan perlu mengetahui AI yang digunakan di lingkungan kerja, mengatur hak akses, serta menyiapkan mekanisme pemantauan dan respons terhadap aktivitas yang tidak semestinya.

Kedua, serangan berbasis identitas semakin penting untuk diperhatikan. Akun pengguna, kredensial, token, serta identitas mesin dapat menjadi pintu masuk menuju sistem perusahaan. Perubahan ini membuat pengamanan identitas dan akses tidak cukup hanya mengandalkan kata sandi. Pengawasan aktivitas, autentikasi berlapis, pembatasan hak akses, serta pengelolaan identitas AI menjadi bagian dari strategi keamanan yang semakin relevan.

Baca Juga  Partaonan Resmi Jadi Kepala Asrama Haji Kelas I Medan

Ketiga, ransomware, pencurian data, dan serangan berbasis AI tetap menjadi ancaman utama. Google Cloud mencatat pelaku ancaman dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efektivitas serangan, sementara ransomware dan pencurian data tetap menjadi risiko finansial yang besar. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperkuat perlindungan endpoint, pencadangan data, pemantauan jaringan, serta rencana pemulihan ketika terjadi insiden.

Keempat, keamanan rantai pasok digital menjadi semakin strategis. Sistem perusahaan saat ini terhubung dengan penyedia cloud, aplikasi, vendor teknologi, serta layanan pihak ketiga. IBM mencatat kompromi terhadap rantai pasok dan pihak ketiga menjadi pola ancaman yang perlu mendapat perhatian karena satu kelemahan pada penyedia layanan dapat membuka jalur serangan ke banyak organisasi.

Baca Juga  Prabowo Perintahkan Warga RI Punya Rekening Bank

Kelima, kesiapan menghadapi komputasi kuantum mulai masuk agenda keamanan. Gartner menilai perusahaan perlu mempersiapkan migrasi menuju kriptografi pascakuantum karena kemajuan komputasi kuantum berpotensi mengancam sistem kriptografi yang digunakan saat ini. Persiapan tersebut antara lain dengan menginventarisasi aset kriptografi dan memastikan sistem memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan standar enkripsi baru.

Keenam, ketahanan siber menjadi tanggung jawab lintas organisasi. PwC mencatat 68 persen pemimpin bisnis dan teknologi di Indonesia menempatkan risiko siber dalam tiga prioritas strategis teratas. Sementara itu, World Economic Forum menilai AI, perubahan geopolitik, serta kerentanan rantai pasok ikut membentuk risiko siber pada 2026. Bagi perusahaan, tren tersebut menunjukkan bahwa keamanan siber bukan hanya persoalan tim teknologi informasi, tetapi membutuhkan tata kelola, kesiapan sumber daya manusia, pengawasan manajemen, dan kemampuan memulihkan operasional setelah insiden.***

Share :

Baca Juga

TECHNOLOGY

Komputer Makin Canggih, Teknologi Apa yang Bisa Menggantikannya?

TECHNOLOGY

Robotika Polifungsional Makin Canggih, Manusia Dituntut Beradaptasi dengan Era Mesin Cerdas

TECHNOLOGY

BRIN Perkuat Teknologi Biomedis untuk Dorong Inovasi Kesehatan Indonesia

TECHNOLOGY

Teknologi AI dan Zero Trust Jadi Strategi Baru Keamanan Perbankan Digital

TECHNOLOGY

Teknologi FDS Perkuat Sistem Keamanan Perbankan di Era Digital

TECHNOLOGY

Tren Rambut 2026: Warna Dua Sisi Pink-Hitam hingga Biru-Hitam Makin Digemari

TECHNOLOGY

Tren Model Dress Brokat 2026 Semakin Modern, Elegan untuk Pesta

TECHNOLOGY

Tren Kutek 2026, Warna Cantik untuk Gaya Lebih Anggun